Sesungguhnya nikmat – nikmat yang Allah berikan kepada seluruh hamba – hambanya sangatlah banyak, sehingga sangking banyaknya jumlahnya, maka sangatlah tidak mungkin dapat dihitungnya, begitulah yang Allah nyatakan dalam Al-Qur'an yang artinya
Dan dia Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). Al'Allamah Asyaikh Abdurrahman Bin Nasir Assa'di dilaam tafsirnya; تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان beliau menjelaskan, bahwa ayat ini mendorong manusia agar senantiasa mensyukuri dan mengingatnya, sebagaimana nikmat – nikmat Allah atas mereka selalu mereka rasakan pada setiap waktunya
. Tapi, meskipun banyak nikmat Allah yang diberikan, sungguh banyak pula manusia yang tidak mensyukurinya, dan bahkan yang lebih ironis lagi, tidak merasakan bahwa padanya banyak nikmat Allah yang masih dirasakannya tetapi mereka tidak tahu bahwa itu nikmat. Ambil contoh, seorang yang miskin, dia tidak punya rumah, tidak sanggup membeli sepeda, tidak kuasa membeli mobil, tidak merasakan makanan yang mahal – mahal, tidak tahu rasanya tidur dihotel dan……..dan………….. dan seterusnya, ia tidak merasa, bahwasanya mata yang masih ia bisa lihat dengannya, kalau itu saja Allah cabut darinya, maka sungguh kalau ia punya harta yang melimpah, mobil yang mewah, rumah yang bagus, taman yang indah, maka kalau saja ada seorang dokter yang bisa mengembalikan penglihatannya lagi seperti semula, sungguh ia akan korbankan semua yang ia miliki untuk itu.
Manusia memang sedikit yang bersyukur. Manusia memang banyak yang tak tahu balas budi. Manusia memang tak sedikit yang lupa daratan. Banyak dari manusia, ketika mereka sudah punya rumah sederhana, kemudian mereka melihat banyak yang sudah punya rumah mewah, maka merekapun mulai tidak mensyukuri rumah sederhana itu, padahal masih banyak mereka mereka yang tidak punya rumah yang sederhana, jangankan rumah sederhana, makanpun masih susah.Dan disana masih banyak contoh – contoh yang menggambarkan bahwa manusia jarang yang merasakan apa yang mereka milika itu adalah nikmat, dan mereka akan baru merasakan ketika nikmat itu diambil oleh Allah dari mereka.
Sejarah membuktikan bahwa hal seperti itu banyak terjadi. Dahulu kala, Bani Israil ketika bersama Nabi Musa, mereka pernah hidup diatas kehidupan yang menyenangkan; makanan mereka almanna dan salwa ( makanan manis sebagai madu dan burung sebangsa puyuh ) serta mereka selalu dinaungi awan diwaktu mereka berjalan di panas terik padang pasir, ini keterangannya ada Q.S:Al-Baqarah : 57 yang artinya :
Dan kami naungi kamu dengan awan, dan kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa"* makanlah dari makanan yang baik-baik yang Telah kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.
(* salah satu nikmat Tuhan kepada mereka ialah: mereka selalu dinaungi awan di waktu mereka berjalan di panas terik padang pasir. manna ialah: makanan manis sebagai madu. dan Salwa ialah: burung sebangsa puyuh). Al Imam Abul Fida AlHaafidz Ibnu Katsir Addamasyqi didalam tafsirnya; Tafsir Al Qur'an Al'Adhim yang juga disebut dengan tafsir Ibnu Katsir, beliau menjelaskan, bahwa
makanlah dari makanan yang baik-baik yang Telah kami berikan kepadamu, bahwa Allah menyuruh mereka untuk makan dari apa yang Allah rizkikan pada mereka dan agar menyembahnya seperti dalam ayat lain yang artinya :
"Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun". , tetapi Bani Israil mngingkari akan nikmat yang mereka terima , maka hakikatnya mereka telah berbuat zalim pada mereka sendiri.
Sebaliknya, alangkah banyak manusia yang ketika mereka diberi nikmat yang banyak, sikap mereka bukannya mensyukurinya, tetapi mereka lupa bahwa semua itu adalah pemberian Allah kepadanya, bukan semata –mata hasil jerih payah mereka. Mereka menyangka bahwa Allah tidak punya andil dalamnya, bahwa apa yang mereka usahakan adalah hasil usaha mereka, hasil kerja keras mereka. Contoh sejarah adalan Qarun, dimana dia hidup diata kemewahan yang luar biasa, hingga digambarkan dala Q.S : Al-Qashas : 76, kunci kunci perbendaharaan hartanya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat – kuat. Tetapi saying seribu saying, dia ingkar bahwa yang dia dapatkan adalah bersumber dari Allah, dia berkata : Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku. Mereka lupa, bahwa sekiranya Allah tidak menghendaki mereka mendapatkan nikmat yang banyak, niscaya mereka tidak akan mungkin dan bahkan mustahil untuk dapat memperolehnya.Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, mampu berbuat sesuai hukum sebab akibat , mampu berbuat diluar sebab akibat, mampu mencabut nikmat dari hambanya kapan dan dimana saja dan sesungguhnya urusan-Nya apabila berkehendak sesuati, maka cukup mengatakan "JADILAH" maka akan tejadi.
Sejarah membuktikan, bahwa Allah mampu mencabut nikmat dari hambaNya, sebagai contoh, ketika Qarun sudah kelewat batas perbuatannya, maka Allah Allah benamkan dia beserta rumahnya kedalam bumi, dan penjelasan ini ada pada Q.S: Al-Qashas : 81, contoh seperti ini sungguh banyak sekali, baik yang terjadi dimasa silam maupun masa sekarang. Dan sungguh tidak rahasia lagi, bahwa kehidupan di dunia ini adalah sejarah yang berulang – ulang, hanya beda pada pelaku dan zamannya. Padahal mereka mereka yang ingkar nikmat, mereka yang tidak mensyukuri nikmat Allah, apakah tidak berkaca kepada Nabi Sulaiman, meskipun kekayaannya sangat melimpah, tentaranyapun dari berbagai golongan, dari manusia, jin, hewan, angin dan sebagainya, tetapi beliau senantiasa mengataka : ini adalah karunia Allah kepada saya tidak seperti perkataan Qarun dan selainya. Tidakkah mereka bercermin kepada Nabi Isa, dimana Beliau ketika Allah berikan kemampuan untuk berbicara disaat masih dalam buaian, membuat burung dari tanah liat lalu menjadikannya hidup, menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibunya, menyembuhkan penyakit sopak ( lepra ), menghidupkan orang yang sudah mati, Beliau tidak mengatakan seperti perkatan perkataan orang orang bodoh. Hingga ketika Allah bertanya kepadanya : Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia : " Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah ? Isa menjawab : Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku ( mengatakannya ) . Jika aku mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetaui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib – ghaib. Nabi Isa mengatakan demikian, karena Nabi Isa tahu bahwa kemampuan yang dimilikinya adalah mutlak atas izinNya, dan kalau sekiranya Allah tidak mengizinkannya, maka tidaklah kemampuan itu ada pada Nabi Isa. Kisah ini diabadikan dalam Q.S : Al – Maidah : 116.
Sejarah orang orang terdahulu sungguh alangkah banyaknya, dan semuanya berakibatkan dengan akibat yang sesuai dengan perilakunya, yang baik maka baik, begitupula sebaliknya yang jahat maka jahat. Sejarah bukanlah lembaran lembaran kertas yang cukup dibaca, cukup dihafal, cukup dilombakan, cukup diingat, tetapi sejarah itu adalah dicerminkan dalam kehidupan manusia, ditanamkan pada keyakinan manusia, ditancapkan pada hati sanubari manusia, hingga ketika dia berhadapan dengan suatu masalah, ia bisa bercermin kepada para pendahulunya sampai ia tidak masuk lobang yang sama, lobang yang masuk kedalamnya orang orang terdahulu. Dan kita semua berharap kepa Allah, agar kita termasuk orang orang yang akibat setiap langkah kita baik.
0 komentar:
Posting Komentar