AMBILLAH ILMU YANG MANFAAT UNTUK BEKAL KEHIDUPAN YANG HAQIQI, INSYA ALLAH KEBAHAGIAAN AKAN KITA RAIH ....

Bicara Duniawi di Masjid

Sesungguhnya berbicara masalah duniawi di dalam masjid adalah boleh. Berikut dalil - dalil yang membolehkannya :

Pertama :
Imam Bukhari, no. 5236 dab Imam Muslim, no. 892, meriwayatkan dari Aisyah radhiallahu anha, dia berkata, 'Aku melihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam menutupku dengan selendangnya saat aku menyaksikan orang-orang Habasyah melakukan permainan di masjid, hingga aku merasa bosan. Hormatilah anak perempuan yang masih kecil yang ingin menikmati permainan."Dalam riwayat Bukhari, no. 950 dan Muslim, no. 892, diutarakan, 'Saat itu adalah hari Id, orang-orang hitam melakukan permainan dengan tombak dan pedang.'
Kedua :
Syekh Ibn Baz rahimahullah berkata, 'Tidak mengapa orang yang I'tikaf atau selainnya untuk tidur di dalam masjid, berdasarkan hadits-hadits dan atsar yang terdapat dalam masalah ini, dan berdasarkan riwayat tentang Ahlus-suffah (para shahabat yang tinggal di masjid), selama dijaga kebersihan masjid dan menghindari sebab-sebab yang membuat masjid menjadi kotor, seperti sisa makanan, atau selainnya. Berdasarkan hadits dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dia berkata, ' Diperlihatkan kepaku pahala umatku, hingga termasuk kotoran yang dia keluarkan dari masjid.' (HR. Abu Daud, Tirmizi, dinyatakan shahih oleh Ibnu Khuzaimah). Juga berdasarkan hadits Aisyah radhiallahu anha, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk membangun masjid di perkampungan dan agar dibersihkan serta diberi wewangian.' (HR. perawai yang lima, kecuali Nasa'I dan sanadnya baik) 
Mafhumnya : Pembicaraan orang i'tikah itu tidaklah terlepas dari hal duniawi. Maka bicara duniawi itu adalah hal mubah.
  
Ketiga: 


حديث جابر رضي الله عنه: وكانوا يتحدثون فيأخذون في أمر الجاهلية فيضحكون ويتبسم أي رسول الله صلى الله عليه وسلم. رواه مسلم

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya, no. 670, dari Jabir bin Samurah radhillahu anhu, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam biasanya tidak bangun dari tempat shalat setelah shalat Shubuh sebelum matahari terbit, jika matahari telah terbit, beliau bangkit, saat itu mereka (para sahabat) sedang berbincang-bincang tentang masa jahiliah mereka tertawa dan beliau tersenyum.'  Imam Nawawi berkata, 'Dibolehkan berbicara dengan pembicaraan yang mubah di masjid, atau tentang urusan dunia lainnya yang dibolehkan, meskipun mengakibatkan tawa dan semacamnya. Selama pembicaraannya mubah, berdasarkan hadits Jabir bin Samurah.' (Al-Majmu Syarh Al-Muhazab, 2/177) 

Adapun hadits yang melarang adalah dha'if . Berikut beberapa hadits yang dimaksud :
Pertama :
'Berbicara di masjid akan memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar,' tidak ada dasarnya. (Lihat kitab Silsilah Adh-Dha'ifah, Syekh Al-Albany, rahimahullah, no. 4) 
Kedua :
"Berbincang-bincang dalam masjid itu menggerogoti pahala-pahala seperti binatang ternak memakan rerumputan."Al-Ghazali meriwayatkannya dalam kitab Ihya Ulumuddin I/136. Al-Albani berkata, "hadits di atas tidak ada sumbernya." Al-Hafidz al-Iraqi menyatakan, "saya tidak mendapatkan sumber aslinya." Sedangkan Abdul Wahhab Taqiyuddin as-Subuki dalam kitab Tabaqat asy-Syafi'iyyah IV/145-147 mengatakan dengan tegas, "saya tidak mendapatkan sanadnya."

Pengecualian :
Pertama :Jual beli dan mengumumkan barang hilang
Rasulullah shallallau 'alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian melihat orang yang melakukan jual beli di masjid, maka katakan: 'Semoga Allah tidak memberikan keuntungan dalam perniagaanmu.' Dan apabila engkau melihat orang yang mengumumkan barang hilangnya di masjid maka katakan, “Semoga Allah tidak mengembalikan barang itu kepadamu.” (HR. al-Tirmidzi dan lainnya, hadits shahih)
Dalam riwayat muslim, “Siapa yang mendengar seseorang mencari (mengumumkan) barang hilangnya di masjid, maka hendaknya ia katakan, ‘Allah tidak akan mengembalikannya kepadamu,’ karena sesungguhnya masjid-masjid tidak didirikan untuk ini.”

Kedua : Berbicara saat ada orang yang sedang shalat
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallau 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang yang shalat itu bermunajat kepada Rabbnya, maka hendaklah dia memperhatikan apa yang dia bisikkan kepada-Nya. Janganlah sebagian kalian mengeraskan bacaan Al-Qur’an atas yang lain.” (HR. Malik no. 178, dan Ahmad no. 5326. Dishahîhkan al-Albani dalam Shahîh al-Jami’ no.1951)
Mafhumnya : Kalau baca qur'an  saat ada orang yang shalat saja terlarang, apalagi kalau hanya berbicara masalah duniawi, sedangkan baca qur'an adalah bentuk ibadah.

Ketiga : menjadikan masjid seperti suasana dalam pasar . 

Imam Thabrani dalam Mu’jamnya (10452), dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallau 'alaihi wa sallam bersabda:
سَيَكُونُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ يَجْلِسُوْنَ فِي الْمَسَاجِدِ حلقاً حلقاً، أَمَامُهُمْ الدُّنْيَا فَلَا تُجَالِسُوْهُمْ، فَإِنَّهُ لَيْسَ لِلهِ فِيْهِمْ حَاجَةٌ
Akan ada di akhir zaman, suatu kaum yang duduk-duduk di masjid berkelompok-kelompok, di depan mereka adalah dunia. Maka janganlah kalian duduk-duduk bersama mereka, karena sesungguhnya Allah tidak memiliki hajat (tidak melimpahkan kebaikan) pada mereka.” Untuk  takhrij haditsini ada di       ملتقى أهل الحديث    الدرر السنية    ,  شبكة البينة السلفية

Wallahua'lam. 

Maraji' :





Karena Terpaksa


Berkata salah seorang da'i ( penyeru kepada agama islam ): Saya pernah mengadakan perjalanan da'wah ke Banglades bersama beberapa dokter. Beberapa dokter itu lalu mendirikan posko kesehatan mata. Kemudian datanglah seorang kakek dengan istrinya yang tampak dirundung kebingungan disebabkan dokternya seorang lelaki bukan seorang perempuan. Tatkala dokter yang ingin mengobati istri kakek itu akan mendekatinya, maka dengan spontanitas istri kakek tersebut langsung menangis dan bergetar badannya karena ketakutan. Dokter tidak mengetahui penyebab akan tangisannya, sehingga dia mengira bahwa perempuan itu menangis karena kesakitan. Dokterpun akhirnya penasaran dan langsung bertanya kepada suaminya akan penyebabnya. Suaminya menjawab : Seungguhnya istriku ini tidaklah menangis karena kesakitan, tapi dia menangis karena dia akan dipaksa untuk menyingkap wajahnya dihadapan seorang laki – laki asing. Tadi malam dia tidak bisa tidur dengan tenang karena resah akan hal ini. Dia selalu menghina saya karena hal ini ( berobat dengan laki – laki asing ). Dia bertanya kepadaku : Apa kamu rela saya singkap wajah saya ? . Pada awalnya dia menolak untuk berobat, tapi setelah saya bersumpah bahwa Allah membolehkan hal seperti ini bagi orang yang terpaksa, maka diapun akhirnya menerima ajakan saya. Allah berfirman :
فمن اضظر غير باغ ولا عاد فلا اثم عليه إن الله غفور رحيم. 173
Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. ( Al-Baqarah : 173 )
Dokterpun mulai mencoba untuk mendekatinya, tapi perempuan itu langsung menjauhinya seraya berkata : Apakah kamu seorang muslim ? Dokter menjawab : Ya, Alhamdulillah !!. Perempuan itu kemudian memohon kepadanya sambil berkata : Saya minta kepada kamu dengan nama Allah, agar kamu tidak menyingkap wajah saya kecuali jika kamu yakin dengan ilmu yakin bahwa Allah membolehkan hal itu bagi kamu!!.
Operasinyapun mulai dilaksanakan dan berakhir dengan keberhasilan. Air putih yang menempel pada matanyapun dapat dihilangkan dan pandangannyapun mulai dapat dia rasakan lagi dengan kemuliaan Allah. Kemudian perempuan itu berkata kepada suaminya : Kalau bukan pasal 2 hal ini ( air putih yang menempel pada matanya dan kebutaan ) sungguh saya akan bersabar untuk berada diatas keadaan saya ( menutup wajah ) dan tidak ada seorang lelaki asingpun yang dapat menyentuhku

DAFTAR PUSTAKA
1. Qashoshun lil'afifat, AlQismul-"ilmi pada Madrul – Wathan.
2. Majallatul-Bayan

Jurus Tipuan Syetan


Tatkala syetan mengetahui bahwa dia akan hancur dan sudah dicalonkan menjadi penduduk neraka, maka syetanpun bertekad untuk menyesatkan keturunan Nabi Adam hingga mereka semua masuk neraka. Syetan telah bersumpah untuk mewujudkan ini sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur'an :
قال فبعزتك لأغوينهم أجمعين (82) إلا عبادك منهم المخلصين (83)
Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan mereka semuanya, Kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka ( Shaad : 82-83 ).
Allah juga menyatakan bahwa pada manusia ada syetan, Allah berfirman :
وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا شياطين الإنس والجن ( 112)
Dan Demikianlah kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin ( Al-An'am : 112 )
Sekarang perhatikanlah ! kenapa Allah memulai syetan manusia sebelum syetan jin ?. Itu dikarenakan syetan manusialah yang menyeru kepada apa yang diseur oleh syetan jin. Mereka menyeru kepada perbuatan kufur, bid'ah dan ma'shiat sebagaimana setan jin menyeru kepada hal – hal tersebut. Sebagian ulama menyebutkan bahwa syetan mengajak manusia untuk berbuat dosa, dari dosa besar dan dosa kecil. Ibnu Qoyyim menyatakan dalam kitabya ( Badai'ul fawaid ) pada akhir jild kedua : " Sesungguhnya syetan mengajak manusia kepada 6 hal . Kalau langkah pertama tidak berhasil maka pindah langkah kedua dan seterusnya. Langkah – langkah itu adalah :
1. Syetan menyeru manusia untuk berbuat kufur dan syirik. Seandainya langkah ini berhasil, maka syetan telah sukses dan beruntung.
2. Kalau langkah pertama gagal, maka menyerunya untukberbuat bid'ah. Jika langkah ini mujarrab, maka syetan akan menjadikan bid'ah ini baik pada pandangannya hingga manusia merasa puas dengan bid'ahnya.
3. Kalau langkah kedua tidak berhasil, syetan akan menjerumuskannya dalam dosa besar.
4. Kalau langkah ketiga tidak mendapat sambutan, maka syetan akan membawanya kepada dosa kecil.
5. Kalau langkah keempat tidak ada respon, maka syetan akan menyibukkannya dalam perkara – perkara yang sifatnya boleh.
6. Kalau langkah kelima tidak juga berhasil, maka syetan akan mendorongnya untuk memilih perkara yang sifatnya baik daripada yang sifatnya lebih baik.
Seandainya langkah terakhir juga gagal, maka syetan akan menggunakan jurus terakhirnya yaitu mengumpulkan bala tentaranya dari golongan manusia untuk menghancurkannya. Jurus inilah jurus yang sangat ampuh, tidak ada seorangpun yang selamat darinya. Kalau saja ada yang selamat, mestinya para nabi dan rasul juga juga selamat.
DAFTAR PUSTAKA :
1. Fitanu hadzazzaman ( wa kaifiyyatu muqowamatiha ), Syaikh Abdullah Bin Abdurrahman Al-Jibrin.

Awal Kehancuran


Beriring waktu dan berputarnya zaman, Dunia ini semakin bertambah rusak oleh para penghuninya. Tiada hari dan tiada minggu, kecuali dibumbui dengan kejadian – kejadian yang mengotori dunia ini. Kasus pornografi adalah kasus yang menduduki juara bertahan dan bahkan tak terkalahkan sampai detik ini. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya bukti yang terus bergentanyangan, hingga karena jumlahnya banyak, tak dapat dihitung meskipun dengan alat yang namanya computer. Media – media informatika baik media elektronika, media cetak atau media apapun namanya, banyak dijumpai hal – hal yang berbau porno. Internet, TV, Koran, majalah, dan yang lain adalah tempat yang banyak dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis hingga hal yang termasuk pornopun disikat.
TV lokal saja banyak didapati film – film dan yang lainnya selalu menggunakan daya tarik perempuan. Dimana jalur ceritanya tidak lepas daripada percintaan, kalaupun bukan percintaan, maka pemerannya seringkali dari perempuan yang menggunakan kostum yang tidak layak dan menimbulkan malapetaka bagi generasi muda. Ini semua disebabkan jauhnya manusia dari tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallama. Manusia kalau suadah jauh dan tidak memperhatikan lagi akan ajaran islam yang dibawa Rasulullah, maka bagai binatang dan bahkan lebih hina dari binatang.
Islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa kaum hawa menjaga jarak dari lawan jenisnya. Rasulullah bersabda yang artinya ; " Sebaik – baik shaf ( barisan dalam shalat ) bagi perempuan adalah shaf terakhir dan sejelek – jelek shof adalah shaf pertama ". Hadist tersebut mempunyai arti, bahwa hendaknya perempuan selalu menjaga jaraknya meskipun dalam satu pelaksanaan ibadah yang sama dimana shaf
adalah shaf yang terjauh dari lelaki. Dalam hadist lain dinyatakan bahwa sesungguhnya perempuan adalah fitnah yang paling berbahaya yang ditinggalkan setelah Rasulullah bagi kaum lelaki. Maka dari itu semua, hendaknya setiap insan yang mendambakan akan kehidupan bahagia yang abadi untuk senantiasa dekat dengan ajaran Beliau.

DAFTAR PUSTAKA :
1. Fatawa lil'afifat, Syaikh Bin Baz, Syaikh 'Ustaimin, Syaikh Abdullah Bin Abdurrahman Bin AlJibrin

Fitnah Zaman


Beriring waktu dan berputarnya zaman, Dunia ini semakin bertambah rusak oleh para penghuninya. Tiada hari dan tiada minggu, kecuali dibumbui dengan kejadian – kejadian yang mengotori dunia ini. Kasus pornografi adalah kasus yang menduduki juara bertahan dan bahkan tak terkalahkan sampai detik ini. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya bukti yang terus bergentanyangan, hingga karena jumlahnya banyak, tak dapat dihitung meskipun dengan alat yang namanya computer. Media – media informatika baik media elektronika, media cetak atau media apapun namanya, banyak dijumpai hal – hal yang berbau porno. Internet, TV, Koran, majalah, dan yang lain adalah tempat yang banyak dimanfaatkan untuk kepentingan bisnis hingga hal yang termasuk pornopun disikat.
TV lokal saja banyak didapati film – film dan yang lainnya selalu menggunakan daya tarik perempuan. Dimana jalur ceritanya tidak lepas daripada percintaan, kalaupun bukan percintaan, maka pemerannya seringkali dari perempuan yang menggunakan kostum yang tidak layak dan menimbulkan malapetaka bagi generasi muda. Ini semua disebabkan jauhnya manusia dari tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallama. Manusia kalau suadah jauh dan tidak memperhatikan lagi akan ajaran islam yang dibawa Rasulullah, maka bagai binatang dan bahkan lebih hina dari binatang.
Islam mengajarkan kepada umatnya agar senantiasa kaum hawa menjaga jarak dari lawan jenisnya. Rasulullah bersabda yang artinya ; " Sebaik – baik shaf ( barisan dalam shalat ) bagi perempuan adalah shaf terakhir dan sejelek – jelek shof adalah shaf pertama ". Hadist tersebut mempunyai arti, bahwa hendaknya perempuan selalu menjaga jaraknya meskipun dalam satu pelaksanaan ibadah yang sama dimana shaf
adalah shaf yang terjauh dari lelaki. Dalam hadist lain dinyatakan bahwa sesungguhnya perempuan adalah fitnah yang paling berbahaya yang ditinggalkan setelah Rasulullah bagi kaum lelaki. Maka dari itu semua, hendaknya setiap insan yang mendambakan akan kehidupan bahagia yang abadi untuk senantiasa dekat dengan ajaran Beliau.

DAFTAR PUSTAKA :
1. Fatawa lil'afifat, Syaikh Bin Baz, Syaikh 'Ustaimin, Syaikh Abdullah Bin Abdurrahman Bin AlJibrin

Tinggal Satu Pintu


Hakim At-Tanukhi menyebutkan, bahwa pernah ada seorang tentara yang akan menangkap dengan paksa seorang perempuan yang berada di sebuah jalan dengan maksud hendak menzinahinya. Tetapi tiba – tiba beberapa tetangga perempuan itu mengetahui kejadian ini, maka merekapun hendak menolongnya dan mencoba untuk menghalanginya.. Tapi….. tentara itu beserta beserta kawan tentaranya yang lain menyerang para tetangga itu hingga kocar – kacir. Tentara itupun akhirnya dapat menangkap perempuan tersebut dengan paksa.
Tentara itu lalu membawa perempuan itu dan memasukkannya ke dalam rumahnya. Kemudian diapun menutup seluruh pintu – pintu rumahnya. Setelah itu, mulailah tentara itu merayu perempuan itu untuk berhubungan mesum dengannya. Perempuan itu menolak, maka tentara itupun mulai memaksanya hingga berkatalah perempuan itu : Kematian itu lebih aku cintai daripada menuruti nafsu bejatmu. Tentara itu tidak menggubris perkataannya dan dia terus berusaha menaklukannya guna melampiaskan nafsu binatangnya. Perempuan itupun mulai kuwalahan menghadapinya, maka tatkala tentara itu berhasil dan sudah dalam keadaan akan berhubungan zina, berkatalah perempuan itu : Wahai tentara ! Tolong sabar sebentar , sampai kamu menutup terlebih dahulu pintu yang kamu lupa menutupnya. Berkatalah tentara tersebut : Pintu mana lagi ?..... Perempuan menjawab : Dialah pintu antara kamu dengan Allah. Sesungguhnya Allah masih melihatmu sekarang. Mendengar ucapan ini, tentara itupun mulai sadar dan langsung bangkit seraya berkata : Pergilah kamu, sungguh Allah telah membabaskanmu. Perempuan itupun lantas keluar tanpa dihalangi tentara itu.
Pelajaran dari kisah diatas :
Siapa yang menjaga Allah, niscaya Allahpun akan menjaganya.
DAFTAR PUSTAKA
1. Qashashun lil "afifat, Al-Qismul'Ilmi di Madarul -Wathan

Buah Iman


Hidup di dunia ini sungguhlah sangat berat. Disana banyak hal - hal yang dapat menjauhkan manusia daripada tujuan diciptakannya mereka, yaitu beribadah kepada Allah.. Banyak dari mereka ketika mendapatkan kenikmatan, mereka lupa bahwa Allahlah pemberi nikmat, hingga kenikmatan yang mereka peroleh bukannya dipergunakan untuk ketaatan kepada Allah sebagai bentuk syukur dan terima kasih kepada-Nya, tapi justru mereka habiskan dalam hal-hal yang sia – sia dan bahkan dalam kemaksiatan kepada Allah yang mana ini termasuk dari sikap tidak bersyukur atau kufur kepada nikmat Allah. Adapun orang yang beriman, dia akan pandai bersyukur akan nikmat yang dia peroleh, karena dia yakin bahwa kapan dia bersyukur, niscaya Allah tambah nikmatnya. Dan dia yakin bahwa Allah kuasa mencabut kenikmatan itu darinya..
Orang kaya, kalau dia beriman, maka dia tidak akan dihantui rasa takut akan kehilangan hartanya. Tapi malah harta itu ada pada genggamannya, bukan hartanya menggenggamnya. Seseorang kalau sudah beriman, maka hatinya akan tentram. Pikirannya akan tenang. Hatinya akan terhindar dari rasa was – was, resah gulandah, cemas, takut dan perasaan – perasaan yang tidak positif yang dapat menghambat dalam urusan kehidupannya. Ini semua karena seorang yang beriman, dia yakin bahwa Allah adalah Penolong segala urusannya. Dan sesungguhnya segala yang ada dijagat raya ini adalah sangatlah kecil bagi Allah.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata : Tidaklah langit tujuh dan dan bumi tujuh di telapak tangan Allah, kecuali bagaikan sebutir biji di tangan seseorang. Riwayat ini menunjukkan bahwa begitu besarnya keagungan Allah, dimana menurut beberapa riwayat dijelaskan bahwa langit yang ada di atas kita ini ada tujuh tingkatan. Jarak antara langit dunia ( langit yang terdekat dengan dunia ) dengan dunia adalah sepanjang perjalanan 500 tahun, begitu juga jarak antara langit tingkat pertama dengan kedua dan seterusnya berjarak 500 tahun. Bumi juga memiliki tujuh tingkatan. Ini semua dan selainnya sangatlah kecil disisi Allah, hingga digambarkan seperti riwayat diatas..
Iman kapan sudah menancap pada diri seorang hamba, maka segala masalah yang dijumpai dalam kehidupannya, tidaklah menjadikannya lemah, karena dia yakin siapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar baginya. Dia yakin bahwa setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan. Dan bahwasanya Allah tidaklah mungkin memberikan suatu masalah atau cobaan di luar kemampuan hambanya. Meskipun kadang ada sebagian orang ketika mendapat ujian yang berat, mereka beranggapan bahwa mereka tidak mampu melalui ujian itu hingga ada yang putus asa dan akhirnya bunuh diri atau berbuat di luar yang dibolehkan oleh agama islam.

DAFTAR PUSTAKA
1. كتاب التوحيد الذي هو حق الله على العبيد للإمام المجددمحمد بن عبد الوهاب


" Tulisan ini kupersembahkan untuk kaum muslimin, semoga bermanfaat untuk dunia dan akhirat "

Nikmat Yang Sering Terlupakan


Sesungguhnya nikmat – nikmat yang Allah berikan kepada seluruh hamba – hambanya sangatlah banyak, sehingga sangking banyaknya jumlahnya, maka sangatlah tidak mungkin dapat dihitungnya, begitulah yang Allah nyatakan dalam Al-Qur'an yang artinya
Dan dia Telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). Al'Allamah Asyaikh Abdurrahman Bin Nasir Assa'di dilaam tafsirnya; تيسير الكريم الرحمن في تفسير كلام المنان beliau menjelaskan, bahwa ayat ini mendorong manusia agar senantiasa mensyukuri dan mengingatnya, sebagaimana nikmat – nikmat Allah atas mereka selalu mereka rasakan pada setiap waktunya

. Tapi, meskipun banyak nikmat Allah yang diberikan, sungguh banyak pula manusia yang tidak mensyukurinya, dan bahkan yang lebih ironis lagi, tidak merasakan bahwa padanya banyak nikmat Allah yang masih dirasakannya tetapi mereka tidak tahu bahwa itu nikmat. Ambil contoh, seorang yang miskin, dia tidak punya rumah, tidak sanggup membeli sepeda, tidak kuasa membeli mobil, tidak merasakan makanan yang mahal – mahal, tidak tahu rasanya tidur dihotel dan……..dan………….. dan seterusnya, ia tidak merasa, bahwasanya mata yang masih ia bisa lihat dengannya, kalau itu saja Allah cabut darinya, maka sungguh kalau ia punya harta yang melimpah, mobil yang mewah, rumah yang bagus, taman yang indah, maka kalau saja ada seorang dokter yang bisa mengembalikan penglihatannya lagi seperti semula, sungguh ia akan korbankan semua yang ia miliki untuk itu.
Manusia memang sedikit yang bersyukur. Manusia memang banyak yang tak tahu balas budi. Manusia memang tak sedikit yang lupa daratan. Banyak dari manusia, ketika mereka sudah punya rumah sederhana, kemudian mereka melihat banyak yang sudah punya rumah mewah, maka merekapun mulai tidak mensyukuri rumah sederhana itu, padahal masih banyak mereka mereka yang tidak punya rumah yang sederhana, jangankan rumah sederhana, makanpun masih susah.Dan disana masih banyak contoh – contoh yang menggambarkan bahwa manusia jarang yang merasakan apa yang mereka milika itu adalah nikmat, dan mereka akan baru merasakan ketika nikmat itu diambil oleh Allah dari mereka.
Sejarah membuktikan bahwa hal seperti itu banyak terjadi. Dahulu kala, Bani Israil ketika bersama Nabi Musa, mereka pernah hidup diatas kehidupan yang menyenangkan; makanan mereka almanna dan salwa ( makanan manis sebagai madu dan burung sebangsa puyuh ) serta mereka selalu dinaungi awan diwaktu mereka berjalan di panas terik padang pasir, ini keterangannya ada Q.S:Al-Baqarah : 57 yang artinya :

Dan kami naungi kamu dengan awan, dan kami turunkan kepadamu "manna" dan "salwa"* makanlah dari makanan yang baik-baik yang Telah kami berikan kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

(* salah satu nikmat Tuhan kepada mereka ialah: mereka selalu dinaungi awan di waktu mereka berjalan di panas terik padang pasir. manna ialah: makanan manis sebagai madu. dan Salwa ialah: burung sebangsa puyuh). Al Imam Abul Fida AlHaafidz Ibnu Katsir Addamasyqi didalam tafsirnya; Tafsir Al Qur'an Al'Adhim yang juga disebut dengan tafsir Ibnu Katsir, beliau menjelaskan, bahwa
makanlah dari makanan yang baik-baik yang Telah kami berikan kepadamu, bahwa Allah menyuruh mereka untuk makan dari apa yang Allah rizkikan pada mereka dan agar menyembahnya seperti dalam ayat lain yang artinya :
"Sesungguhnya bagi kaum Saba' ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang Maha Pengampun". , tetapi Bani Israil mngingkari akan nikmat yang mereka terima , maka hakikatnya mereka telah berbuat zalim pada mereka sendiri.
Sebaliknya, alangkah banyak manusia yang ketika mereka diberi nikmat yang banyak, sikap mereka bukannya mensyukurinya, tetapi mereka lupa bahwa semua itu adalah pemberian Allah kepadanya, bukan semata –mata hasil jerih payah mereka. Mereka menyangka bahwa Allah tidak punya andil dalamnya, bahwa apa yang mereka usahakan adalah hasil usaha mereka, hasil kerja keras mereka. Contoh sejarah adalan Qarun, dimana dia hidup diata kemewahan yang luar biasa, hingga digambarkan dala Q.S : Al-Qashas : 76, kunci kunci perbendaharaan hartanya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat – kuat. Tetapi saying seribu saying, dia ingkar bahwa yang dia dapatkan adalah bersumber dari Allah, dia berkata : Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku. Mereka lupa, bahwa sekiranya Allah tidak menghendaki mereka mendapatkan nikmat yang banyak, niscaya mereka tidak akan mungkin dan bahkan mustahil untuk dapat memperolehnya.Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, mampu berbuat sesuai hukum sebab akibat , mampu berbuat diluar sebab akibat, mampu mencabut nikmat dari hambanya kapan dan dimana saja dan sesungguhnya urusan-Nya apabila berkehendak sesuati, maka cukup mengatakan "JADILAH" maka akan tejadi.
Sejarah membuktikan, bahwa Allah mampu mencabut nikmat dari hambaNya, sebagai contoh, ketika Qarun sudah kelewat batas perbuatannya, maka Allah Allah benamkan dia beserta rumahnya kedalam bumi, dan penjelasan ini ada pada Q.S: Al-Qashas : 81, contoh seperti ini sungguh banyak sekali, baik yang terjadi dimasa silam maupun masa sekarang. Dan sungguh tidak rahasia lagi, bahwa kehidupan di dunia ini adalah sejarah yang berulang – ulang, hanya beda pada pelaku dan zamannya. Padahal mereka mereka yang ingkar nikmat, mereka yang tidak mensyukuri nikmat Allah, apakah tidak berkaca kepada Nabi Sulaiman, meskipun kekayaannya sangat melimpah, tentaranyapun dari berbagai golongan, dari manusia, jin, hewan, angin dan sebagainya, tetapi beliau senantiasa mengataka : ini adalah karunia Allah kepada saya tidak seperti perkataan Qarun dan selainya. Tidakkah mereka bercermin kepada Nabi Isa, dimana Beliau ketika Allah berikan kemampuan untuk berbicara disaat masih dalam buaian, membuat burung dari tanah liat lalu menjadikannya hidup, menyembuhkan orang yang buta sejak dalam kandungan ibunya, menyembuhkan penyakit sopak ( lepra ), menghidupkan orang yang sudah mati, Beliau tidak mengatakan seperti perkatan perkataan orang orang bodoh. Hingga ketika Allah bertanya kepadanya : Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia : " Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah ? Isa menjawab : Maha suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku ( mengatakannya ) . Jika aku mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetaui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib – ghaib. Nabi Isa mengatakan demikian, karena Nabi Isa tahu bahwa kemampuan yang dimilikinya adalah mutlak atas izinNya, dan kalau sekiranya Allah tidak mengizinkannya, maka tidaklah kemampuan itu ada pada Nabi Isa. Kisah ini diabadikan dalam Q.S : Al – Maidah : 116.
Sejarah orang orang terdahulu sungguh alangkah banyaknya, dan semuanya berakibatkan dengan akibat yang sesuai dengan perilakunya, yang baik maka baik, begitupula sebaliknya yang jahat maka jahat. Sejarah bukanlah lembaran lembaran kertas yang cukup dibaca, cukup dihafal, cukup dilombakan, cukup diingat, tetapi sejarah itu adalah dicerminkan dalam kehidupan manusia, ditanamkan pada keyakinan manusia, ditancapkan pada hati sanubari manusia, hingga ketika dia berhadapan dengan suatu masalah, ia bisa bercermin kepada para pendahulunya sampai ia tidak masuk lobang yang sama, lobang yang masuk kedalamnya orang orang terdahulu. Dan kita semua berharap kepa Allah, agar kita termasuk orang orang yang akibat setiap langkah kita baik.

Dampak IRI HATI


Setiap insan yang hidup di muka bumi ini tidak terlepas dari yang namanya kekurangan, baik material maupun non material. Ada orang yang kaya, tapi dia tidak punya anak, maka tanpa kehadiran anak di tengah keluarganya menjadikannya kurang bahagia. Anak yang pintar dalam sekolah, tapi orang tuanya miskin, maka dia akan menemui banyak masalah yang berkaitan dengan financial atau keuangan. Dan disana masih banyak contoh – contoh kekurangan dalam kenyataan hidup ini. Faktor kekurangan ini biasanya menimbulkan banyak penyakit hati. Penyakit yang sering menghampiri manusia faktor kekurangan adalah penyakit iri hati. Orang yang terjangkit penyakit iri, maka hidupnya tidak akan pernah bahagia, karena dia selalu merasa kekurangan dalam hidupnya dan menjadikannya lemah dalam menjalani roda – roda kehidupan. Semua orang yang hidup mesti menginginkan kebahagiaan hidup. Oleh karenanya, hendaklah setiap yang merasa ada pada dirinya virus iri hati ini untuk segera berobat.
Ikhlas menerima pemberian Allah dan mensyukurinya adalah obat dari penyakit iri. Rasa ikhlas akan terwujud dengan merenungi segala pemberian yang Allah berikan. Sebagai contoh perenungan, kalau ada orang miskin tapi dia memiliki mata yang sehat yang dengannya dia dapat menikmati keindahan alam ini, kemudian nikmat penglihatan ini Allah cabut, niscaya dia akan sangat mengharapkan agar dapat melihat. Bahkan, sekiranya dia mempunyai kekayaan yang banyak, sudah barang tentu dia akan merelakan seluruh hartanya untuk membeli nikmat penglihatan sekiranya nikmat penglihatan tersebut dapat dibeli dengan harta. Sesungguhnya nikmat Allah yang Allah berikan pada manusia itu sangat banyak dan tidaklah ada yang sanggup menghitungya meskipun dengan alat hitung yang paling canggih. Setelah perenungan akan lahir keikhlasan kepada Allah akan segala pemberianNya, mensyukurinya dan malu kepada Allah jika dia masih mengeluh kepada Allah dalam hidup ini padahal alangkah banyak nikmat Allah yang masih dirasakannya.
Syukur adalah cara yang terbaik untuk memperoleh tambahan nikmat Allah. Siapa yang rajin mensyukurinya, niscaya Allah akan menambah nikmatNya. Sebaliknya, siapa yang tidak mau bersyukur, maka Allah ancam dia dengan ancaman yang sangat keras. Allah mengancam orang yang tidak bersyukur karena orang tersebut tidak tahu berterima kasih. Contoh kecil untuk hal ini adalah ketika ada orang memberi sesuatu manfaat pada orang lain, lantas orang yang diberi tidak berterima kasih kepadanya dan bahkan membalasnya dengan balasan jelek, niscaya si pemberipun akan marah.
Iri itu hanya boleh pada dua tempat. Pertama iri terhadap orang yang paham Al-Quran lagi mengamalkan isinya, lalu dia berdoa; kalau aku seperti dia, sungguh aku akan berbuat seperti yang dia perbuat. Kedua iri terhadap orang kaya yang rajin berinfaq, lalu dia berdoa; sekiranya aku seperti dia, niscaya aku akan berbuat seperti dia berbuat. Iri yang tidak disertai dengan usaha untuk menghilangkan nikmat dari orang yang dia iri kepadanya adalah boleh dan disyariatkan dalam islam.

Pahala Puasa



عنْ أَبي هُريرة رضِي اللَّه عنْهُ ، قال : قال رسُولُ اللَّهِ صَلّى
 اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم : « قال اللَّه عَزَّ وجلَّ : كُلُّ عملِ ابْنِ آدم لهُ إِلاَّ الصِّيام ، فَإِنَّهُ لي وأَنَا أَجْزِي بِهِ . والصِّيام جُنَّةٌ فَإِذا كَانَ يوْمُ صوْمِ أَحدِكُمْ فلا يرْفُثْ ولا يَصْخَبْ ، فَإِنْ سابَّهُ أَحدٌ أَوْ قاتَلَهُ ، فَلْيقُلْ : إِنِّي صَائمٌ . والَّذِي نَفْس محَمَّدٍ بِيدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائمِ أَطْيبُ عِنْد اللَّهِ مِنْ رِيحِ المِسْكِ .للصَّائمِ فَرْحَتَانِ يفْرحُهُما : إِذا أَفْطرَ فَرِحَ بفِطْرِهِ ، وإذَا لَقي ربَّهُ فرِح بِصوْمِهِ » متفقٌ عليه 
.
Abu Hurairah berkata : Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: Allah berfirman: Setiap amal anak adam adalah untuk diri mereka kecuali puasa. Sesungguhnya ia untukku dan aku yang akan membalasnya. Puasa itu perisai. Seandainya seseorang berpuasa pada suatu hari, janganlah dia berkata dengan perkataan yang kotor dan jangan pula meninggikan suara. Seandainya seseorang mencelanya, atau mengajaknya berkelahi, katakanlah: Sesungguhnya aku berpuasa. Demi Tuhan yang nyawa Muhammad di tanganNya, sesungguhnya bau mulut orang berpuasa itu lebih wangi di sisi Allah daripada bau minyak kasturi. Orang yang berpuasa mempunyai dua kegembiraan: apabila berbuka, dia gembira dengan berbuka puasanya, dan ketika bertemu tuhannya, dia gembira dengan puasanya. [Muttafaq ‘Alaihi]

قال اللَّه تعالى في الحديث القدسي : كُلُّ عملِ ابْنِ آدم لهُ ،الحسنة بعشرة أمثالها إلى سبع مائة ضعف إلا الصيام, فَإِنَّهُ لي وأَنَا أَجْزِي بِهِ . إنه ترك شهوته وطعامه وشرابه من أجلي. للصَّائمِ فَرْحَتَانِ : فرحة عند ِفطره ، وفرحة عند لقاء ربه, ولَخُلُوفُ فَمِ الصَّائمِ أَحب عِنْد اللَّهِ مِنْ رِيحِ المِسْكِ. رواه البخاري ومسلم

Allah berfirman dalam hadits qudsi : Setiap amal anak adam adalah untuk diri sendiri, kebaikan itu akan dilipatgandakan menjadi 10 sampai 700 kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu milikku dan aku yang akan membalasnya. Sesungguhnya dia telah meninggalkan syahwatnya  ( jima’ ), makanan dan minumannya karena aku. Orang yang berpuasa mempunyai dua kegembiraan: Kegembiraan ketika berbuka puasa dan ketika bertemu Tuhannya. Sesungguhnya bau mulutnya lebih dicintai di sisi Allah daripada bau kasturi. ( H.R : Bukhari dan Muslim )

Maksud dari setiap amal anak adam adalah untuk diri sendiri adalah pahalanya telah dijelaskan dalam hadits seperti pahala haji mabrur adalah surga, sedangkan pahala puasa itu langsung dinilai oleh Allah. Maksud kegembiraan ketika berbuka puasa dan bertemu Tuhannya adalah kegembiraan karena dapat makan setelah seharian menahan lapar , dahaga dan jima’ atau telah mendapatkan kemampuan dari Allah untuk berpuasa karena kemampuan untuk berpuasa itu adalah datangnya dari Allah dan kegembiraan mendapatkan pahala yang besar seperti yang telah dinyatakan bahwa pahala puasa adalah langsung di nilai oleh Allah. Hadits diatas menunjukkan bahwa puasa mengajarkan seseorang untuk ikhlas dalam beramal. Puasa adalah amalan yang bersifat rahasia antara hamba dan Allah. Dan karena inilah , puasa itu punya nilai besar disisi Allah. Puasa dinyatakan rahasia karena kalau sesorang tidak ikhlas, maka bisa saja dia tidak berpuasa dan dia berpura – pura sedang berpuasa. Dan setiap amal yang ikhlas karena Allah, maka nilainya dan pahalanya juga besar di sisi Allah sebagaimana ikhlas dalam berpuasa.  Seperti itulah hendaknya setiap amal dikerjakan, sebagaimana Allah perintahkan dalam Q.S : Al-An’am :162 – 163 dan Azzumar : 14.

Maraji’ :
ماذا نتعلم من مدرسة رمضان, إعداد : أبي الحسن بن محمد الفقيه

Amalan Baca YASIN


Banyak umat islam yang sering membaca surat yasin untuk tujuan tertentu. Diantara mereka ada yang bertujuan untuk tolak bala, memperingati kematian, menyambut kelahiran dan masih banyak yang lainnya. Adapun diantara hadits yang menjadi dasar oleh mereka sebagai berikut :

من قرأ يس فكأنما قرأ القران عشر مرات

Barang siapa yang membaca YASIN, maka seolah – olah dia telah membaca Al-Qur’an 10 kali.

من قرأ يس في ليلة أصبح مغفورا

Barang siapa yang membaca YASIN dalam suatu malam , maka dia akan mendapat ampunan di pagi harinya.

من داوم على قراءتها ثم مات مات شهيدا

Barang siapa yang membaca YASIN secara rutin pada setiap malam kemudian meninggal, maka dia meninggal dalam keadaan mati syahid.

إن لكل شيء قلبا وقلب القران يس

Sesungguhnya setiap sesuatu itu ada hatinya. Dan hati Al-Qur’an adalah YASIN.

Menurut penelitian pakar hadits dan ahlul ilmi bahwa hadits – hadits tersebut dan hadits tentang keutamaan surat YASIN adalah tidak dapat dijadikan hujjah . Diantara derajat hadits tersebut ada yang dho’if / lemah, maudhu’ / palsu dan ada juga yang laa asla lahu / tidak ada asal usulnya. Semoga penjelasan singkat ini dapat bermanfaat.

Bayar Hutang Puasa Atau Puasa Syawal



Sesungguhnya orang yang masih punya hutang puasa di Bulan Ramadhan , maka wajib baginya untuk membayar hutang berpuasa tersebut sebelum menjalankan puasa sunnah  syawwal 6 hari.  Ini dikarenakan bahwa puasa Ramadhan hukumnya wajib sedangkan puasa 6 hari syawwal adalah sunnah. Berikut beberapa sumber yang menyatakan bahwa hutang puasa Ramadhan harus didahulukan daripada puasa sunnah syawwal :
1.  Syaikh Bin Baz
صيام ست شوال قبل قضاء الواجب

هل يشرع صيام الست من شوال لمن عليه أيام من رمضان قبل قضاء ما عليه؛ لأني سمعت بعض الناس يُفتي بذلك، ويقول: إن عائشة - رضي الله عنها- كانت لا تقضي الأيام التي عليها من رمضان إلا في شعبان، والظاهر أنها كانت تصوم الست من شوال لما هو معلوم من حرصها على الخير؟

بسم الله الرحمن الرحيم الحمد لله، وصلى الله وسلم على رسول الله، وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بهداه. أما بعد: في هذه المسألة لا يجوز فيما يظهر لنا أن تصام النافلة قبل الفريضة لأمرين: أحدهما : أن الرسول - صلى الله عليه وسلم - قال : (من صام رمضان ثم أتبعه ستاً من شوال كان كصيام الدهر). والذي عليه قضاء من رمضان لا يكون متبعاً للست من شوال لرمضان ؛ لأنه قد بقي عليه من رمضان فلا يكون متبعاً لها لرمضان حتى يكمل ما عليه من رمضان ، فإذا كان الرجل عليه صيام من رمضان لكونه مسافراً أو مريضاً ثم عافاه الله، فإنه يبدأ بقضاء رمضان، ثم يصوم الست إن أمكنه ذلك. وهكذا المرأة التي أفطرت من أجل حيضها أو نفاسها فإنها تبدأ بقضاء الأيام التي عليها ثم تصوم الستة من شوال إن أمكنها ذلك ، إذا قضت في شوال. أما أن تبدأ بصيام الست من شوال ، أو يبدأ الرجل الذي عليه صوم بالست من شوال فهذا لا يصلح ولا ينبغي. والوجه الثاني: أن دين الله أحق بالقضاء، وأن الفريضة أولى بالبدء والمسارعة من النافلة ، الله - عز وجل- أوجب عليه صوم رمضان ، وأوجب على المرآة صوم رمضان فلا يليق أن تبدأ بالنافلة قبل أن تؤدى الفريضة. وبهذا يعلم أنه لا وجه للفتوى بصيام الست لمن عليه قضاء قبل القضاء، بل يبدأ بالقضاء فيصوم الفرض ثم إذا بقي في الشهر شيء وأمكنه أن يصوم الست فعل ذلك وإلا ترك ؛ لأنها نافلة بحمد لله. وأما قضاء الصيام الذي عليه من رمضان فهو واجب وفرض، فوجب أن يبدأ بالفرض قبل النافلة ويحتاط لدينه للأمرين السابقين: أحدهما أن الرسول - صلى الله عليه وسلم - قال: (ثم أتبعه ستاً من شوال). والذي عليه أيام من رمضان ما يصلح أن يكون متبعاً للست من رمضان ، بل قد بقي عليه ، فكأنه صامها في أثناء الشهر، كأنه صامها بين أيام رمضان ، ما جعلها متبعةً لرمضان. والأمر الثاني: أن الفرض أولى بالبداءة، وأحق بالقضاء من النافلة، ولهذا جاء في الحديث الصحيح : (دين الله أحق بالقضاء، أقضوا الله فالله أحق بالوفاء - سبحانه وتعالى). أما قوله عن عائشة ، فعائشة - رضي الله عنها- كانت تؤخر الصوم إلى شعبان قالت لما كانت تشغل برسول الله - عليه الصلاة والسلام-، فإذا أخرت الفريضة من أجل الرسول - صلى الله عليه وسلم- فأولى وأولى أن تؤخر النافلة من شغله - عليه الصلاة والسلام-. فالحاصل أن عائشة ليس في عملها حجة في تقديم الست من شوال على قضاء رمضان؛ لأنها تؤخر صيام رمضان لأجل شغلها برسول الله -عليه الصلاة والسلام- فأولى وأولى أن تؤخر الست من شوال، ثم لو فعلت وقدمت الست من شوال فليس فعلها حجةً فيما يخالف ظاهر النصوص.

http://www.ibnbaz.org.sa/mat/13732

2.  Syaikh Utsaimin
Beliau pernah ditanya  : Bagaimana kedudukan orang yang berpuasa enam hari di bulan syawal padahal punya qadla(mengganti) Ramadhan ? 
Beliau menjawab : Dasar puasa enam hari syawal adalah hadits berikut
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan lalu mengikutinya dengan enam hari Syawal maka ia laksana mengerjakan puasa satu tahun.” 
Jika seseorang punya kewajiban qadla puasa lalu berpuasa enam hari padahal ia punya kewajiban qadla enam hari maka puasa syawalnya tak berpahala kecuali telah mengqadla ramadlannya (Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin)
http://kaahil.wordpress.com/2011/08/31/masih-punya-hutang-puasa-bolehkah-ikut-puasa-syawwal-6-hari-haruskah-puasa-syawwal-dilakukan-berurutan-keutamaan-puasa-syawal-siapa-yang-berpuasa-ramadhan-dan-melanjutkannya-dengan-6-hari-p/

3.  Syaikh Abduillah bin Jibrin
Beliau pernah ditanya : Jika seorang wanita berpuasa enam hari di bulan Syawal untuk mengqadha puasa Ramadhan, apakah ia mendapat pahala puasa enam hari Syawal ?
Beliau menjawab :
Disebutkan dalam riwayat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda (yang artinya) : “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan kemudian diikuti dengan puasa enam hari bulan Syawal maka seakan-akan ia berpuasa setahun”
Hadits ini menunjukkan bahwa diwajibkannya menyempurnakan puasa Ramadhan yang merupakan puasa wajib kemudian ditambah dengan puasa enam hari di bulan Syawal yang merupakan puasa sunnah untuk mendapatkan pahala puasa setahun. Dalam hadits lain disebutkan (yang artinya) : “Puasa Ramadhan sama dengan sepuluh bulan dan puasa enam hari di bulan Syawal sama dengan dua bulan”
Yang berarti bahwa satu kebaikan mendapat sepuluh kebaikan, maka berdasarkan hadits ini barangsiapa yang tidak menyempurnakan puasa Ramadhan dikarenakan sakit, atau karena perjalanan atau karena haidh, atau karena nifas maka hendaknya ia menyempurnakan puasa Ramadhan itu dengan mendahulukan qadhanya dari pada puasa sunnat, termasuk puasa enam hari Syawal atau puasa sunat lainnya. Jika telah menyempurnakan qadha puasa Ramadhan, baru disyariatkan untuk melaksanakan puasa enam hari Syawal agar bisa mendapatkan pahala atau kebaikan yang dimaksud. Dengan demikian puasa qadha yang ia lakukan itu tidak bersetatus sebagai puasa sunnat Syawal.
http://kaahil.wordpress.com/2011/08/31/masih-punya-hutang-puasa-bolehkah-ikut-puasa-syawwal-6-hari-haruskah-puasa-syawwal-dilakukan-berurutan-keutamaan-puasa-syawal-siapa-yang-berpuasa-ramadhan-dan-melanjutkannya-dengan-6-hari-p/

4.  Syaikh Muhammad Farj Alashfar
فضيلة الشيخ/ محمد فرج الأصفر
مختصر سؤال الفتوى: هل يجوز صيام الست من شوال قبل قضاء رمضان ؟؟
الجواب :
هذه المسألة فيها خلاف و تفصيلها على النحو الآتي :
أولا :
القول أولا:
من أراد أن ينتفل بصيام قبل قضاء رمضان يجوز له ذلك في صيام عرفة وتسع من ذي الحجة وعاشوراء وصيام الأثنين والخميس والأيام البيض فله أن يصوم هذه الأيام ، والحجه في ذلك بأن وقت القضاء موسع لم يحدده الله سبحانه وتعالى بوقت قال تعالى : ( ومن كان مريضا أو على سفر فعدة من أيام أخر ) البقرة 185 . فقوله تعالى: ( فعدة من أيام أخر ) " يعني فعليه عدة من أيام أخر ، ولم يقيدها الله بالتتابع ولو قيدت بالتتابع للزم من ذلك الفورية ، ولذلك الأمر فيه سعة . ووقت القضاء وقت موسع جاز له أن يصوم ما سبق ذكره من النقل قبل أن يقضي ما عليه من رمضان ، لكن الأولى أن يبدأ بالقضاء ، لأنه واجب وأبرأ للذمة .
القول الثاني :
لا يجوز التنفل قبل القضاء ولا يصح التطوع قبل القضاء ، ويأثم ، وعللوا : أن النافلة لا تؤدى قبل الفريضة .
ثانيا :
حكم صيام الأيام الستة من شوال قبل أن يقضي ، ما عليه من رمضان ؟
فمن كان عليه قضاء من رمضان يجب عليه أن يبادر بصيام القضاء أولا ثم يصوم ستة أيام من شوال ، وهذه المسألة تختلف عن التي تحدثنا عنها قبل قليل ، وذلك لأن صيام الأيام الستة فيها نص واضح ، بست من شوال ، وهو الحديث عن أبي أيوب الأنصاري رضي الله عنه أن رسول الله قال : ( من صام رمضان ثم أتبعه ستا من شوال كان كصيام الدهر ) أخرجه مسلم
وجه الإستشهاد في قوله : " من صام رمضان " ومعناه أو مفهومه أن من كان عليه قضاء من رمضان لعذر لا يصدق عليه أنه صام رمضان كامل حتى يتبعه بست من شوال ، لذا لا يحصل على الثواب العظيم المذكور في الحديث إلا من قضى ما عليه أولا ، ثم صام ستة أيام من شوال .
هذا من ذهب له كلا من الشيخين رحمهما الله ابن باز وبن عثيمين واللجنة الدائمة للبحوث العلمية والأفتاء في السعودية .
قلــــــــــــت :
أما القول الراجح عندي هو تقديم القضاء على النفل وتمام رمضان بالقضاء ثم الشروع في صيام الست من شوال لأن القضاء دين لله وفي رقبة العبد وسوف يُسأل عنه إن لم يؤديه ودين الله أحق أن يُقضى . وكذلك بصيام القضاء فقد أتم شهره ثم بعد التمام يصوم الست من شوال حتى يكون قد وافق متن الحديث ويحصل على الثواب العظيم .
هذا والله أعلم وأصلي وأسلم على النبي محمد

http://www.mohammedfarag.com/play.php?catsmktba=19963

4. Fataawa Al-Lajnah Ad-Daa'imah lil Buhuuts wal Ifta', 10/392
“Jika seseorang tertinggal beberapa hari dalam Ramadhan, dia harus berpuasa terlebih dahulu, lalu baru boleh melanjutkannya dengan 6 hari puasa Syawal, karena dia tidak bisa melanjutkan puasa Ramadhan dengan 6 hari puasa Syawal, kecuali dia telah menyempurnakan Ramadhan-nya terlebih dahulu.”
http://kaahil.wordpress.com/2011/08/31/masih-punya-hutang-puasa-bolehkah-ikut-puasa-syawwal-6-hari-haruskah-puasa-syawwal-dilakukan-berurutan-keutamaan-puasa-syawal-siapa-yang-berpuasa-ramadhan-dan-melanjutkannya-dengan-6-hari-p/

Semoga penjelasan diatas bermanfaat. Wallahu a’lamu bisshawab.

Download Kitab - Kitab

1. Kitab Ushul Tafsir

 شرح رسالة في أصول التفسير للسيوطي



DOWNLOAD


2. Kitab Tafsir
روائع البيان تفسير آيات الأحكام


Download Button
  
 3. Hadits
علوم الحديث ومصطلحه عرض ودراسة

Download

4. Bahasa Arab
تعليم العربية للناطقين بغيرها
 
 
download[4]
5. Muqarrar Syari'ah LIPIA online

A. Semester 1  
DOWNLOAD Ushul Fiqh

Siapakah kita setelah Ramadhan

Allah Subhaanahu wa Ta'aala berfirman dalam Al-Qur'an :
يا أيها الذين امنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, ( Q.S : Al-Baqarah : 183 )
Syaikh Sa’di menjelaskan tentang ayat diatas bahwa tujuan puasa adalah agar seseorang dapat menjadi pribadi yang bertaqwa. Maka siapa yang bertaqwa setelah bulan Ramadhan , dia telah berhasil puasanya dikarenakan tujuan berpuasa telah tercapai. Sebaliknya, siapa yang tidak bertaqwa setelah berlalunya bulan tersebut, sungguh dia telah gagal dalam melaksanakan ibadah puasanya. Untuk mendapatkan keberhasilan dalam mencapai tujuan itu diperlukan kesungguhan dalam mencontoh puasanya Rasululllah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallama. Pusanya Rasulullah itu bukan hanya menahan haus, lapar dan berhubungan di siang Ramadhan saja, tapi juga mempuasakan seluruh anggota badan dari perbuatan yang mendatangkan murka Allah Azza wa Jalla dan melaksanakan amalan – amalan yang dicintai Allah.
Setelah bulan Ramadhan berlalu, terbagilah kaum muslimin kepada 4 macam :
  1. Mereka yang pada asalnya ta’at beribadah sebelum masuk bulan Ramadhan, akan bertambah ketaatan dan keimanannya kepada Allah setelah melalui bulan puasa ini. Lisannya mereka akan mengatakan : "Sesungguhnya Aku takut akan siksaan hari yang besar jika Aku durhaka kepada Tuhanku". ( lihat : Q.S : Az-Zumar  : 13 )
  1. Mereka yang pada asalnya sering berbuat dosa sebelum Ramadhan, akan bertekad kuat untuk selalu dalam ketaatan beribadah dan meninggalkan perbuatan dosa yang dulu pernah dikerjakannya sebelum Ramadhan. Mereka telah merasakan manisnya beribadah kepada Allah dan nikmatnya dekat dengan Allah. Sungguh Allah Maha Pengampun bagi orang yang mau bertaubat dan beriman serta beramal shalih ( lihat Q.S : Thaha : 82 ). Sungguh Allah Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat dan memperbaiki amalnya setelah dia berbuat kedzaliman dan perbuatan kejelekan ( lihat Q.S : Al-Maidah : 39 dan Al-A’raf : 153 ). Sungguh Allah senang dengan taubatnya seorang hamba kepadaNya ( lihat hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim dari shahabat Anas semoga Allah meridhoinya ). Dan sungguh Allah senantiasa membuka tanganNya untuk menerima taubat para hambaNya, Rasululullah bersabda :
إن الله تعالى  يبسط يده بالليل ليتوب مسيء النهار ويبسط يده بالنهار ليتوب مسيء الليل حتى تطلع الشمس من مغربها ( رواه مسلم من حديث أبي موسى الأشعري رضي الله عنه )
Sesungguhnya Allah Yang Maha Tinggi senantiasa membentangkan tanganNya di waktu malam untuk menerima taubat orang yang berbuat jelek di waktu siangnya. Dan Allah juga membentangkan tanganNya juga di waktu siang untuk menerima taubat orang yang berbuat jelek di waktu malamnya sampai matahari terbit dari tempat tenggelamnya. ( Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Abu Musa Al-Asy’ari ).
  1. Mereka yang mau bertaubat, tapi mereka terkalahkan oleh nafsunya sehingga mereka terjerumus dalam perbuatan dosa yang pernah dilakukannya. Perbuatan yang sangat tampak dari mereka ini adalah :
    1. Menyia – nyiakan waktu shalat.berjama’ah. Diwaktu bulan Ramadhan mereka sanggup shalat tarawih berjama’ah di masjid, tetapi diluar bulan Ramadhan , mereka tinggalkan shalat 5 waktu berjama’ah di masjid. Padahal dilihat dari hukum shalat tarawih itu adalah sunnah dan shalat 5 waktu itu adalah wajib. Dan sungguh Allah itu adalah Rabb Ramadhan dan juga Rabb bulan – bulan yang lain. Sangat disayangkan bagi mereka, mereka memenuhi masjid hanya dibulan Ramadhan, dan mereka meninggalkan masjid ketika Ramadhan meninggalkan mereka, seakan – akan mereka tidak mempunyai kewajiban melaksanakan shalat 5 waktu berjama’ah, seakan – akan mereka tidak lagi membutuhkan Allah Pencipta mereka.
    2. Membuka aurat, bercampur baur dengan lawan jenis dan menyenangi perbuatan dosa yang mengarahkan kepada perbuatan zina. Disaat Ramadhan mereka sanggup meninggalkan pacaran, tetapi ketika mereka berpisah dengan Ramadhan, mereka melanjutkan perbuatan dosa mereka dari berpacaran, mendengarkan musik cinta, menonton film percintaan yang mengumbar aurat dan melihat apa yang telah Allah larang. Pergi ke luar Negari untuk berbuat ma’siat. Mereka tekun beribadah disaat Ramadhan, tetapi setelah Ramadhan telah berlalu, mereka pergi keluar negeri untuk berbuat ma’siat. Seolah – olah Allah hanya melihat mereka ketika mereka di negerinya sendiri dan tidak melihat mereka ketika mereka pergi ke luar negeri. Sungguh Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi. Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang Telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu ( lihat Q.S : Al-Mujadilah : 7 ). Sungguh kejelakan itu dapat menghapus amal kebaikan sebagaimana kebaikan dapat menghapus amal kejelekan ( lihat Q.S : Muhammad : 32 )
    3. Meninggalkan Al-Qur’an. Diwaktu mereka dalam Ramadhan, mereka mau menyentuh Al-Qur’an untuk membacanya, memahami artinya dan mentadabburi kandungannya, tetapi ketika Ramadhan telah usai, mereka berpisah dengan al-Qur’an.
  1. Mereka tidak mendapatkan manfaat puasa dikarenakan mereka hanya berpuasa dari lapar, haus dan berhubungan dengan suami / istrinya di siang hari. Mereka berpuasa tetapi perbuatan dosa tetap mereka lakukan seperti berdusta, melihat apa yang Alah haramkan dan selainnya.
Bermanfaat atau tidaknya amal selama bulan Ramadhan itu memiliki tanda dan alamat. Jika setelah Ramadhan mereka tetap istiqamah diatas ketaatan kepada Allah, maka ini adalah tanda bahwa amalnya dibulan Ramadhan memberikannya manfaat, dan sebaliknya mereka yang kembali berbuat dosa maka ini adalah tanda tidak bermanfaat kegiatan ibadahnya dibulan Ramadhan. Sungguh siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Allah berikan kepadanya kehidupan yang baik dan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang Telah mereka kerjakan ( lihat Q.S : An-Nahl : 97 ). Sungguh Allah memrintah hambaNya untuk beribadah samapai kematian menjemput mereka, bukan hanya memerintah dibulan Ramadhan saja ( lihat Q.S : Al-Hijr : 99 ).
Akh Sofwan
Referensi :
ماذا بعد رمضان ؟ لأخ في الله. ( مصدر هذه المادة الكتيبات الإسلامية , دار ابن خزيمة )
" YA ALLAH,... PAHAMKANLAH KAMI AGAMA ISLAM DAN AJARKANLAH KAMI TA'WIL "